Jadi sebenernya aku dan temen-temen aku gak punya plan untuk menuju ke Wae Rebo, karna kami juga awalnya gak tau kalo di Flores tuh ada desa yang terkenal, di internasional pula. Semua berawal dari aku yang waktu itu browsing-browsing pengalaman orang-orang yang ke Labuan Bajo, dan ada salah satu travel blogger yang nyebutin tempat ini. Akhirnya setelah tau kalo desa ini adalah Top Award of Excellence 2012 by UNESCO, aku nambahin Wae Rebo ke destinasi liburan di Labuan Bajo.
Awalnya plan kami tuh cuma stay di Labuan Bajo sampai tanggal 6 Februari, tetapi karna ternyata perjalanan ke Wae Rebo itu memakan waktu kira-kira 10 jam sekali jalan, kami merombak ulang travel plan kami seperti di postingan sebelumnya. Wae Rebo letaknya lumayan jauh dari Labuan Bajo. Sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan, kami berangkat ke Wae Rebo di hari Senin, dengan menaiki mobil yang sudah kami sewa jauh-jauh hari.
10 jam?
Yes! Gak bohong!
6,5 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo ke Desa Denge + 3,5 jam mendaki ke desanya 😂
Sebenernya waktu perjalanan bisa lebih cepat dari itu, tapi karna perjalanan kami waktu itu penuh drama (ada yang mabok naik mobil, ada yang kecapean mendaki😋), makanya kami lebih lama, karna banyak berhentinya. Kata driver kami, perjalanan ini ngelewatin 2 kabupaten, 7 kecamatan dan beberapa desa yang gak bisa di hitung.
| salah satu spot yang kami lewati |
Sesampainya di Desa Denge, kami beristirahat dan makan siang di rumah Pak Blasius Monta, yaitu warga asli Desa Wae Rebo yang membuka jasa penginapan untuk turis yang hendak naik ke Wae Rebo. Beliau juga yang menyewakan mobil dan driver kepada kami dengan harga yang terjangkau. Bagi kalian yang tertarik untuk ke Wae Rebo, aku recommend banget untuk contact Pak Blasius dulu di 081339350775. Kalau telepon gak di angkat atau gak tersambung, kalian tinggalin SMS aja. Maklum, di sana agak susah mencari sinyal telepon, apalagi sinyal internet.
Untuk masuk ke Wae Rebo, Pak Blasius menyarankan kami untuk menyewa pemandu loka, agar kami tidak kebingungan atau tersesat. Belum lagi untuk masuk ke Wae Rebo, ada sejenis tradisi yang harus dijalankan terlebih dahulu. Setelah perut sudah terisi, kami pun merasa sudah cukup kuat untuk melakukan trekking ke Wae Rebo. Ada 3 pos yang harus di lalui. Pos pertama bisa di tempuh naik ojek, sedangkan pos kedua dan ketiga benar-benar hanya dapat di tempuh dengan kaki. Singkat cerita, di mulailah trekking pertama kami di tanah Flores.
| mengisi stok air minum dari sumber mata air langsung |
Perjalanan panjang pun dimulai. Mungkin karena tidak terbiasa dengan trekking, kami gak berhenti-berhenti nanya "Udah deket belom?" ke pemandu kami. Hihihi. Dalam perjalanan, kami sempat berpapasan dengan warga Wae Rebo yang naik dan turun untuk mengantar kopi, mengambil beras, dan lain-lain. Salut banget deh sama stamina mereka.
Setelah 3,5 jam, AKHIRNYA NYAMPEEEEE!
Bangga? Bangetlah!
Setelah sesi adat penyembutan, hujan turun cukup deras. Wah, bersyukur bange kami ujannya turun setelah kami nyampe. Gak kebayang kalo sampe hujan-hujanan waktu trekking ke Wae Rebo, itu pasti bahaya banget. Eh tapi percaya gak, malem nya tuh ada turis Taiwan yang nyampe di desa sekitar jam 9an loh, bawa anak pula. Gokil sih menurut aku, bisa2nya trekking ujan2 di malam gelap, bawa anak pula ckckck.
Nanti aku bakal update lagi ttg Wae Rebo ya, mau beres2 untuk CNY dulu bye!
Nanti aku bakal update lagi ttg Wae Rebo ya, mau beres2 untuk CNY dulu bye!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar